Seorang Pasien COVID-19 Di Mojokerto Dalam Kondisi Kritis Yang Ditolak 5 Rumah Sakit

  • Whatsapp
Seorang pasien COVID-19 di Mojokerto dalam kondisi kritis yang ditolak oleh 5 rumah sakit, akhirnya meninggal dunia. Dinas Kesehatan juga memberikan solusi kepada masyarakat agar kasus serupa tidak terulang kembali.
banner 300x250

Havana88 –   Seorang pasien COVID-19 di Mojokerto dalam kondisi kritis yang ditolak oleh 5 rumah sakit, akhirnya meninggal dunia. Dinas Kesehatan juga memberikan solusi kepada masyarakat agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, dr Langit Kresna Janitra mengatakan, ada dua cara yang bisa dilakukan masyarakat agar kasus yang dialami Wahyu Syafiatin alias Titin (32) tidak terulang. diri.

Read More

Cara pertama, warga Mojokerto bisa langsung datang ke Puskesmas terdekat saat mengalami gejala COVID-19, seperti sesak napas. Dengan dibawa ke puskesmas, menurut Langit, setidaknya pasien bisa mendapatkan pertolongan pertama. Karena setiap puskesmas memiliki stok oksigen medis dan dokter.

“Dengan datang ke puskesmas minimal pasien mendapat pertolongan pertama, itu yang terpenting. Jika perlu penanganan lebih lanjut, petugas puskesmas akan membantu mencarikan rumah sakit rujukan,” kata dr Langit

Cara kedua, kata dr Langit, masyarakat bisa mengakses layanan Tim Respon Cepat (TRC) COVID-19 Kabupaten Mojokerto 24 jam. Yaitu dengan menghubungi call center 08975556888 dan 081231280707.

“Nantinya, TRC akan menghubungi puskesmas terdekat untuk segera merawat pasien yang membutuhkan pertolongan,” jelas dokter yang juga Ketua TRC COVID-19 Kabupaten Mojokerto itu.

Ia menjelaskan, TRC memberikan berbagai layanan terkait kasus COVID-19 bagi warga Kabupaten Mojokerto. Mulai dari pelayanan ibu hamil atau bersalin yang terinfeksi Virus Corona, fasilitas isolasi di desa, ketersediaan vaksin Corona, rujukan pasien, pemakaman dan pemakaman, ketersediaan oksigen, ketersediaan tempat tidur, hingga logistik APD, reagen, antigen swab dan antibodi tes cepat.

“Agar masyarakat tidak perlu bingung untuk berkeliling mencari rumah sakit,” jelas Dr Langit.

Sebelumnya diberitakan, Wahyu Syafiatin alias Titin (32) sempat kesulitan mendapatkan tempat berobat di rumah sakit tersebut pada Kamis (22/7) pukul 01.00 hingga 06.30 WIB. Dalam kondisi kritis selama lebih dari 5 jam, ia dibawa berkeliling menggunakan mobil pribadi atau ambulans untuk mencari rumah sakit.

Saat itu, ibu dua anak asal Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto ini mengalami sesak napas dengan saturasi oksigen hanya 25-40 persen. Meski begitu, 5 rumah sakit menolak merawatnya dengan berbagai alasan. Mereka adalah RS Dian Husada, RS Sakinah, RS Kartini, RS Mawaddah Medika, dan RS Prof dr Soekandar.

Tiga di antaranya merupakan rumah sakit rujukan untuk pasien COVID-19. Yakni RSI Sakinah yang sempat menolak pasien karena UGD penuh. RS Mawaddah Medika menolak pasien karena stok oksigen menipis.

Sementara itu, RSUD Prof Dr Soekandar menolak Titin karena keterbatasan tenaga kesehatan (nakes). Saat itu, pintu masuk UGD rumah sakit milik Pemkab Mojokerto itu ditutup portal. Sehingga kendaraan yang membawa pasien tidak bisa masuk.

“Kami berkoordinasi dengan RSUD Prof dr Soekandar agar portal bisa dibuka kembali,” kata dr Langit.

Pagi itu sekitar pukul 06.30 WIB, Titin akhirnya diterima di UGD RSI Sakinah, Jalan RA Basuni, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Itu setelah kerabatnya, Edwin Riki (32) memohon kepada manajemen rumah sakit sambil menyampaikan kondisi kritis Titin. Hasil tes antigen swab dan PCR menunjukkan Titin positif COVID-19.

Selama dirawat di UGD RSI Sakinah, saturasi oksigen Titin sempat meningkat hingga 80 persen. Namun, napasnya masih berat. Selain terinfeksi COVID-19, ibu muda ini juga memiliki riwayat asma. Kondisinya tidak membaik saat dipindahkan ke ruang isolasi. Ia akhirnya meninggal dunia pada Jumat (23/7) sekitar pukul 20.30 WIB.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250