Resign Dari Bank BUMN, Dedy Kini Jadi Petani Organik Sukses

  • Whatsapp
Sesuai dengan nama rubrik 'Saatnya Menjadi Bos', Dedy Tri Kuncoro kini benar-benar menjadi bos di ladangnya sendiri. Padahal sebelumnya ia adalah pegawai bank yang berprestasi dan siap untuk mendapatkan promosi.
banner 300x250

Havana88 –  Sesuai dengan nama rubrik ‘Saatnya Menjadi Bos’, Dedy Tri Kuncoro kini benar-benar menjadi bos di ladangnya sendiri. Padahal sebelumnya ia adalah pegawai bank yang berprestasi dan siap untuk mendapatkan promosi.

Namun, Dedy merasa bekerja di bank bukanlah panggilan jiwanya. Dia merasa terdorong untuk melakukan hal lain yang menyenangkan tetapi tetap produktif.

“Bukan berarti bekerja di bank atau di tempat lain tidak menyenangkan dan tidak produktif, saya hanya merasa bekerja di bank bukan panggilan bagi saya. Padahal saat itu saya bekerja di bank BUMN cabang Yogyakarta. kantor, take home pay saya tinggi dan saya berhasil dan siap untuk dipromosikan posisi saat itu, “katanya.

Menjadi petani sebenarnya tidak pernah ada dalam pikiran Dedy, saat itu ia hanya ingin mencari pekerjaan baru namun tetap berguna bagi orang lain. Sebelum mengundurkan diri dari bank, ia bergabung dengan komunitas dan mempelajari Ikigai, sebuah konsep yang mempelajari tujuan hidup.

Dari situ Dedy mendapat prinsip hidup yang lebih bermakna. Meski pihak keluarga sempat menentang keputusan Dedy keluar dari bank milik negara pada 2014.

Setelah mengundurkan diri, rencana Dedy tidak berjalan mulus, keluarganya kembali memintanya bekerja di bank daerah dan dia mulai lagi dari posisi terbawah. Namun, baru setahun dia benar-benar bertekad untuk memulai bisnis.

Tiga bulan sebelum meninggalkan bank, Dedy sudah mulai berencana membuka usaha di bidang agribisnis. Dia mulai menjual bibit pohon buah-buahan di Yogyakarta.

“Setelah saya keluar dari bank, saya fokus berjualan bibit buah, tapi jual bibit buah ada masa tunggunya, makanya saya mobilisasi anak muda untuk berjualan sayuran organik,” imbuhnya.

Tren penjualan terus meningkat, namun kondisi ini tidak didukung pasokan yang memadai karena keterbatasan lahan yang digarap Dedy. Hingga April 2017, ia menyewa tanah dari crowdfunding bersama teman-teman dekatnya. Modal awal yang digunakan untuk membeli bibit sekitar Rp. 25 juta, dimana Rp. 17 juta untuk benih dan sisanya untuk operasional.

Dedy sangat bangga dan bahagia menjadi seorang petani, bedanya sekarang dia memiliki gaji 5 kali lipat lebih besar saat dia bekerja di bank. Selain itu, ia juga kini telah membina petani yang pendapatannya 4 kali upah minimum di Jogja.

“Perbedaannya di pendapatan, jauh, sekarang kebanyakan bisa 5 kali lipat waktu saya bekerja di bank. Sebenarnya bukan hanya masalah finansial, tapi ada kepuasan yang saya dapatkan ketika saya menjadi petani, saya hidup di dunia ini, saya harus memberikan sesuatu,” jelasnya.

Dedy selalu memegang prinsip bahwa dia tidak bisa mengeksploitasi tanah. Tanah yang digunakan harus dihidupkan kembali dan dirawat, sehingga ada timbal balik yang baik dari tanah dan manusia.

“Saya merasa ini hobi saya yang dibayar, saya dapat uang darinya. Banyak orang yang mengira petani hanya menghasilkan produksi, padahal mereka dapat banyak dari mana-mana, seperti menjadi pembicara di seminar, saya bisa mendapatkan penghasilan. uang,” tambahnya.

Dia tidak menyebutkan berapa omzet yang didapatnya per bulan. Namun, ia memberi gambaran bahwa satu kebun bisa mengantongi Rp. 3 juta per bulan. Saat ini terdapat 9 kebun yang dikelola dan 15 kebun akan dibuka di lokasi baru.

Setiap kebun menghasilkan komoditi yang berbeda-beda sehingga omzetnya tidak bisa disamaratakan. Saat ini Dedy juga melatih anak-anak SMK bertani, karena kebunnya memang menjadi percontohan petani muda.

Memilih Pertanian Organik
Dedy memilih pertanian organik karena tidak ingin bergantung pada industri pupuk atau pestisida. Ia menggunakan lahan pertanian terpadu yang meliputi lahan pertanian, tambak ikan dan peternakan. Jadi untuk pupuk dan pestisida ia langsung ambil dari tempat yang sama.

Pestisida alami yang digunakan Dedy juga bukan untuk membunuh atau meracuni hama. “Kami pestisida alami, kami hanya mengusirnya. Karena saya sadar kami harus berbagi. Untuk setiap produksi kami dapat mengambil 70% dan kemudian 30% harus rusak oleh hama, kami dapat memberikan sisanya kepada ikan. Konsepnya zero waste,” ujarnya. .

Dedy mengatakan, prinsip pertanian organik atau produk pertanian tidak hanya berdasarkan sertifikasi. Tetapi juga proses penanaman, produksi dan pemeliharaan kembali tanah juga harus diperhatikan. Selain itu, konsep ini juga dapat menekan harga pokok produksi (HPP). Karena pola tanam tidak bergantung pada industri.

Pupuk yang digunakan Dedy dihasilkan dari olahan kotoran hewan padat, kemudian pupuk cair didapat dari limbah kulit buah. Pelanggan Dedy adalah pedagang jus, sehingga ia bekerja sama dengan pelanggannya untuk mengumpulkan kulit buah atau limbah untuk dijadikan pupuk.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250