Perjuangan Difabel remaja penjual rokok dan air minum keliling di Kabupaten Pekalongan

  • Whatsapp
Perjuangan Difabel remaja penjual rokok dan air minum keliling di Kabupaten Pekalongan
banner 300x250

Havana88detik – Rokok … Rokok …, “Seorang bocah penyandang disabilitas menjajakan dagangannya dengan suara serak di dekat Alun-alun Kabupaten Pekalongan siang tadi.
Nama remaja Gading Ogi Yahputra. Setiap hari dia berkeliling menjual rokok dan air mineral dengan sepeda roda tiganya.

Remaja berusia 16 tahun itu beberapa kali mencoba menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang dilewatinya, meski dengan hukuman terputus-putus. Kaki telanjangnya mengayuh sepeda tuanya dengan mantap. Tubuhnya mencondongkan badan ke depan untuk mengimbangi motornya.

Read More

Postur kaki Ogi yang istimewa membuatnya tidak bisa berjalan selama ini. Tanpa sepeda, Ogi bergerak dengan cara menyeret tubuhnya atau merayap ke samping.

“Banyak yang mau kasih uang. Nggak mau. Ya harus beli ini (mineral dan rokok),” kata Gading masih dengan suara serak saat ditemui Pekalongan, Jumat (26/3/2021).

Gading mengaku berjualan untuk membantu orang tuanya dan menabung perbekalan untuk hari tuanya.

“Nggak mau merepotkan,” ucapnya lirih.

Diwawancarai terpisah, ibu Gading, Susiyanti (46), menuturkan, kondisi khusus anak keduanya sudah diketahui sejak masih dalam kandungan.

“Sejak saya masih dalam kandungan, anak saya beda nomor dua. Cuma kedutannya saja yang seperti itu. Bahkan ketika dia lahir, dia dihisap atau disedot,” ujarnya.

Tak mau diam saja, Gading memutuskan berjualan sejak dua tahun lalu. Awalnya Susiyanti tak tega melakukannya, namun Gading tak berkecil hati meminta izin ibunya untuk berjualan.

“Saya tidak tega, tapi dia terus meminta agar boleh berjualan. Tidak mau menganggur, mau cari duit sendiri,” ujarnya.

“Banyak yang kasihan dan kasih uang ke Gading. Gading enggak mau terima,” lanjut Susiyanti.

Setiap kali Gading berangkat dari rumahnya di Dukuh Bubak, Desa Kebonagung, Kecamatan Kajen untuk berjualan di sekitar alun-alun dan kantor Pemerintah Kabupaten Pekalongan setiap usai shalat Ashar. Remaja yang juga tidak lancar berbicara setiap hari itu baru pulang berjualan sekitar pukul 22.00 WIB.

“Dia selalu bawa sarung untuk sholat. Dia juga sering kehilangan barang dagangannya saat istirahat. Gading sudah tahu pencurinya. Tapi dia yang melakukannya,” kata Susiyati.

Dalam sehari, Gading bisa membawa pulang Rp. 200 ribu sampai dengan Rp. 300 ribu. Uang tersebut digunakan Gading untuk modal perdagangan keesokan harinya dan disimpan.

“Sudah dua tahun sejak anak saya mengumpulkan uang. Ada yang menabung, ada yang membeli tiga kambing dan membuat gerobak rokok untuk dijual ayah mereka untuk dijual. Ayah bertani pada siang hari, dan pada malam hari penjualannya dilakukan. terselip di pojok kampus, “katanya.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250