Pengrajin Boboko Sumedang Di Tengah Pagebluk COVID-19

  • Whatsapp
banner 300x250

Havana88 –  Seorang perempuan terlihat khusyuk menganyam bambu di depan teras rumah panggung di Desa Awi Lega, Desa Genteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Tangannya pandai menganyam bambu menjadi nasi boboko (mangkuk nasi yang terbuat dari anyaman bambu).

Boboko mungkin kurang populer daripada tempat nasi yang lebih modern. Namun siapa sangka, bagi warga kampung ini, Boboko menjadi penolong sebagai pemenuhan kebutuhan pokok di masa pandemi Covid-19 seperti ini.

Read More

Wiwin Wintarsih (48), seorang ibu rumah tangga, merupakan salah satu pengrajin boboko dari ratusan pengrajin di Desa Genteng. Menurutnya, kerajinan boboko sangat membantu di masa sulit seperti ini.

Boboko ini lumayan membantu, uangnya kecil tapi cepat laku, asalkan kita mau dan sabar bisa cukup membantu perekonomian warga di sini, kata Wiwin.

Untuk di desa, Boboko mungkin menjadi salah satu usaha yang tidak terkena dampak pandemi COVID-19. Bahkan diakui Wiwin, permintaan boboko justru meningkat.

“Bahkan, permintaan justru meningkat, karena banyak juga yang memerintahkan kegiatan penyelamatan korban meninggal dunia,” katanya.

Untuk diketahui, sebagian besar penduduk Desa Genteng berprofesi sebagai petani tembakau. Namun, sejak harga tembakau anjlok akibat pandemi COVID-19, kerajinan boboko menjadi penopang utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau jual tembakau tidak dapat uang secara langsung karena proses pembuatan tembakau menjadi sanggul rokok memakan waktu lama, apalagi di masa pandemi seperti ini kalau dijual bisa rugi banyak karena harganya turun sampai setengahnya. padahal modalnya besar, takutnya kalau dijual sekarang modalnya habis,” ujarnya. Wiwin.

Di masa pandemi seperti ini, kata Wiwin, warga Desa Genteng hampir seluruhnya mengandalkan pendapatan dari kerajinan boboko.

“Untuk saat ini mau kaya atau miskin, semua orang di sini mengandalkan boboko, bukan tembakau. Kalau rajin, ada yang bahkan bisa beli sawah, meski petak kecil,” katanya.

Wiwin mengatakan, satu boboko besar dibanderol dengan harga Rp. 25 ribu, sedangkan untuk yang kecil harganya bervariasi mulai dari Rp. 8.000 sampai Rp. 15 ribu.

“Jadi satu batang bambu seharga Rp 20 ribu bisa menghasilkan empat boboko atau Rp 100 ribu, dipotong biaya anyaman tali dan penyangga dudukan boboko,” jelasnya.

Skill membuat boboko merupakan skill turun temurun di Desa Tile. Selain itu juga membutuhkan keterampilan dan ketelitian dalam pembuatannya.

“Kakek dan buyut kami telah menjadikan anyaman bambu ini sebagai mata pencaharian mereka,” ujarnya.

Pengrajin boboko lainnya, Titin (45) mengaku kerajinan boboko baginya merupakan sumber ekonomi utama selain suaminya yang bekerja sebagai kuli di luar negeri.

“Selain uang dari suami, bagi kami kerajinan ini juga menjadi sumber penghasilan,” ujarnya.

Hasil kerajinan buatannya, biasa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Cukup enak bisa makan dari kerajinan ini, asal mau dan rajin,” ujarnya.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250