Pedagang cendol dawet mengaku harus menabung keras selama 6 tahun demi bisa kuliah

  • Whatsapp
Pedagang cendol dawet mengaku harus menabung keras selama 6 tahun demi bisa kuliah
banner 300x250

Havana88detik – Akses ke pendidikan tinggi mungkin sulit bagi sebagian orang dengan kapasitas ekonomi terbatas. Apalagi tanpa beasiswa hampir pasti akan menelan biaya jutaan.
Seperti yang dialami seorang pedagang cendol dawet di Dusun Lasah, Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, Ahmad Junaedi (30). Ia mengaku harus menabung keras selama 6 tahun untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia juga mengumpulkan Rp. 300-400 ribu per bulan untuk bisa belajar.

“Selama 6 tahun saya mengumpulkan uang untuk biaya kuliah sampai sekarang. Mungkin kalau ada kesempatan mau sekolah lagi,” ujar mahasiswi tingkat akhir jurusan Ekonomi Syariah di Pesantren Nahdlatul Ulama Malang (STAINU Malang ini). ) kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Read More

Kesulitan Junaedi tidak berhenti sampai di situ. Setiap hari ia harus membagi waktunya antara belajar dan berdagang cendol dawet sagu keliling. Ia juga merasakan nikmatnya belajar sambil bekerja.

“Sangat sulit karena kita harus berbagi pemikiran tentang berjualan dan bersekolah. Itu sudah sangat sulit. Mengerjakan tugas sambil berjualan sambil menunggu pembeli. Kalau terjebak jualan mengerjakan tugas itu biasa saja,” ujarnya. dilanjutkan.

Meski begitu, Junaedi mengaku tak pernah terpikir untuk menyerah baik saat mulai menabung selama 6 tahun maupun semasa kuliah hingga sekarang.

Karena mencari ilmu bukan sampai mati tapi kewajiban. Bosan berjualan sambil kuliah tapi nikmati saja dan tidak mau menyerah, motivasi mencari ilmu, nomor dua mengubah nasib, “ujarnya sambil tersenyum. .

Lebih jauh, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat di kampung asalnya, Desa Tawangargo, Dusun Lasah, Kabupaten Malang untuk maju bersama melalui pendidikan.

“Sebenarnya saya ingin mengubah pola pikir masyarakat karena merasa sudah cukup SMP sehingga bagaimana nasib teman-teman saya bisa berubah, saya ingin memotivasi mereka,” pungkasnya.

Junaedi dan pedagang sagu dawet lainnya di Desa Lasah merupakan anggota cluster UKM binaan Bank BRI. Dalam pembinaan ini, Bank BRI telah memberikan pelatihan agar mampu meningkatkan daya jual produknya dengan lebih baik. Bank BRI juga telah menyediakan berbagai sarana dan prasarana penjualan, seperti batok kelapa untuk wadah cendol, payung, gerobak dan lain sebagainya. Utamanya, Bank BRI juga menawarkan KUR untuk membantu mereka mengembangkan usahanya.

Kisah Junaedi merupakan salah satu kumpulan cerita dalam program Eksplorasi UMKM ke beberapa daerah di Indonesia. Program ini mengkaji berbagai aspek kehidupan masyarakat dan membaca potensi yang ada di daerah.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250