Moeldoko Kirim Somasi Terakhir Ke ICW Sebelum Lapor Polisi

  • Whatsapp
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko melalui kuasa hukumnya Otto Hasibuan mengirimkan somasi ketiga kepada ICW terkait polemik 'Ivermectin promotion' dan ekspor beras.
banner 300x250

Havana88 –    Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko melalui kuasa hukumnya Otto Hasibuan mengirimkan somasi ketiga kepada ICW terkait polemik ‘Ivermectin promotion’ dan ekspor beras. Otto mengatakan, surat peringatan itu ditujukan kepada peneliti ICW Egi Primayogha untuk meminta maaf dan mencabut pernyataannya.

“Kami berdiskusi dengan Pak Moeldoko, Pak Moeldoko mengatakan bahwa namanya salah orang, siapa tahu dia masih ingin berubah. Kami beri dia kesempatan lagi, kesempatan terakhir. Jadi sebelumnya saya mengirim surat ke saudara Egi, yang ketiga dan surat teguran terakhir,” kata Otto dalam konferensi pers virtual, Jumat (20/8/2021).

Read More

Dalam surat Otto kepada ICW, Moeldoko meminta peneliti ICW untuk meminta maaf dan mencabut pernyataannya dalam waktu 5×24 jam atau 5 hari. Jika tidak mencabut pernyataannya, Otto mengatakan bisa jadi pihaknya atau Moeldoko sendiri akan melaporkan hal tersebut ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik.

“Sekali lagi saya tegaskan, tidak boleh seseorang berlindung dengan alasan demokrasi, berlindung dengan alasan pengawasan pemerintah, tetapi mencemarkan nama baik dan memfitnah orang lain. Itu tidak boleh,” katanya.

“Seperti yang saya sudah bicara dengan Pak Moeldoko, dalam 5 hari kemudian mereka juga tidak mau mundur dan minta maaf, semoga Pak Moeldoko sendiri nanti tegas menyatakan laporannya ke polisi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Otto mengaku telah memperoleh bukti bahwa ICW berniat mencemarkan nama baik. Otto mengatakan dalam diskusi dengan ICW, ICW sempat mengatakan ada misinformasi dalam polemik promosi Ivermectin, namun Otto menilai ICW telah mengakui ada kesalahan namun tidak meminta maaf.

“Jadi kami dengan tegas memiliki bukti yang kuat bahwa memang yang mereka lakukan baik dari press release maupun dari jumpa pers, dalam diskusi publik kami dengan jelas menemukan mens rea yaitu niat mereka untuk mencemarkan nama baik Pak Moeldoko, terbukti lagi, mereka akui bahwa ada misinformasi, yang menurut saya bukan misinformasi, sebenarnya disinformasi. Tapi kalau dibilang dia menggunakan istilah misinformasi, berarti dia salah, mengaku salah, tapi tidak mau menarik diri dan tidak mau minta maaf,” kata Otto.

Selain itu, Otto juga mempertanyakan kepada ICW mengenai sumber data dan klaim hasil penelitian terkait polemik promosi Ivermectin. Karena menurut Otto, berdasarkan penelitian harus ada metodologi dan ada pihak yang diwawancarai, tapi menurutnya tidak ada pihak yang diwawancarai. Oleh karena itu, Otto menilai ICW hanya membuat analisis berdasarkan sumber media.

“Kalau ada narasumber dalam penelitian itu harus diwawancarai, ditanya apa alasannya, sehingga mendapat hasil yang objektif dan kredibel. Itu ada di media sosial. Jadi ada satu berita, link berita terkait dengan yang lain, Terkait berita lainnya, dia hanya menyimpulkan, hanya itu data yang dimiliki ICW,” ujarnya.

“Jadi dalam debat kami dengan mereka saya katakan di mana tindakan Pak Moeldoko diuntungkan dari situasi seperti ini, itu jawaban mereka bolak-balik, tidak ada data lain, mereka hanya mengacu pada berita di media,” kata Otto. .

Otto mengatakan, nantinya pihaknya akan melaporkan Egi dengan ancaman Pasal 27 dan Pasal 45 UU ITE jika dalam waktu 5 hari tidak ada permintaan maaf.

Otto mengatakan sebenarnya Koordinator ICW, Topan Husodo, telah menjawab panggilan yang dikirim, namun menurut Otto, surat itu tidak menyebutkan apakah itu kuasa Egi atau bukan. Sedangkan menurut dia, tindak pidana tidak dapat dialihkan kepada orang lain, oleh karena itu Otto tetap meminta Egi untuk meminta maaf.

“ICW bukan badan hukum yang saya lihat, saya melihat koordinator, bukan direktur, bukan badan hukum. Oleh karena itu, yang kami laporkan pasti saudara Egi, Miftah lain, saya lupa namanya. Tindak pidana dilakukan oleh Egi. , suatu tindak pidana tidak dapat dialihkan, dialihkan kepada orang lain, siapa yang melakukannya, harus dipukul,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengirimkan surat panggilan kedua ke ICW dengan jangka waktu 3×24 jam. ICW diminta membuktikan tuduhan tersebut dan meminta maaf atau mencabut pernyataan terkait temuan terkait promosi Ivermectin dan bisnis ekspor beras. Jika tidak, Moeldoko akan melaporkan ICW ke polisi.

“Kita beri waktu yang cukup 3×24 jam. Pak Moeldoko baik sekali, katanya ada cukup waktu. Jangan bilang kita sembarangan, kalau 1×24 jam tidak cukup, kita beri waktu 3×24 jam. Yang penting dia bisa buktikan atau tidak, jangan berpura-pura

banner 300x250

Related posts

banner 300x250