LPSK Minta Polisi Fasilitasi Pemeriksaan Forensik yang Netral Dalam Kasus Dugaan Perkosaan 3 Anak di Luwu Timur

  • Whatsapp
Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, menilai ibu korban pemerkosaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, meragukan hasil pemeriksaan jenazah ketiga anaknya.
banner 300x250

Havana88- Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, menilai ibu korban pemerkosaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, meragukan hasil pemeriksaan jenazah ketiga anaknya. Mulai dari pemeriksaan di Puskesmas Malili, hingga ke RS Polri Bhayangkara Makassar, Sulawesi Selatan.

Keraguan ini, menurut dia, menjadi salah satu akar penyebab kasus dugaan pencabulan yang dialami ketiga anak tersebut, yang diduga dilakukan oleh ayah kandungnya.

Read More

Edwin juga meminta polisi melakukan pemeriksaan forensik yang netral dan profesional dalam menangani kasus dugaan pemerkosaan tiga anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Dia mengatakan, polisi bisa memberikan pilihan kepada ibu korban untuk memilih ahli forensik yang netral dan profesional. Pemeriksaan yang dilakukan adalah visum et repertum, visum et repertum psikiatrisum, dan psikologi forensik.

“Yang perlu menjadi perhatian semua pihak, termasuk korban, adalah semua pihak harus menganggap hasil pemeriksaan independen sebagai final dan diterima semua pihak secara adil,” katanya seperti dikutip Antara, Rabu (13/10/). 2021).

Pemeriksaan semacam ini, kata dia, dilakukan saat bertugas menyelidiki penyebab meninggalnya Pastor Yeremia di Intan Jaya, Papua, beberapa waktu lalu. Keluarga menolak pemeriksaan jika dilakukan oleh polisi dan lebih memilih ahli forensik lain yang dianggap netral.

“Saat itu polisi mengabulkan permintaan keluarga,” katanya.

Ia mengatakan, LPSK mengikuti kasus ini sejak 2019 karena ibu korban pemerkosaan meminta perlindungan pada 27 Januari 2020. Kemudian, LPSK langsung mengirimkan tim ke Sulawesi Selatan untuk melakukan penyelidikan.

“Kami langsung menemui korban, ibu korban, berkoordinasi dengan penyidik ​​di Polsek Luwu Timur, dan menemui kuasa hukum korban di Kantor LBH Makassar, dan berkomunikasi dengan psikolog yang telah melakukan asesmen psikologis terhadap ketiga anak tersebut,” ujarnya. .

Selanjutnya, LPSK secara mandiri melakukan pemeriksaan psikologis terhadap korban dan ibu korban pada 19 Februari 2020 di Makassar.

Berikan Permintaan Perlindungan

Alasan pemeriksaan di Makassar adalah atas permintaan saudara-saudara yang tidak percaya dengan pemeriksaan psikologi di Luwu Timur.

Mengacu pada hasil pemeriksaan, LPSK mengabulkan permohonan perlindungan pada 13 April 2020 berupa Pemenuhan Hak Prosedur (PHP) dan pemberian bantuan psikologis.

Dikatakannya, saat itu LPSK tetap bersikukuh memberikan perlindungan kepada korban meski penyidikan sudah dihentikan.

“Melalui program PHP, LPSK terus memantau perkembangan kasus dengan terus berkoordinasi dengan Polres Luwu Timur, melakukan audiensi dengan Kapolda Sulsel, dan bertemu dengan wakil gubernur,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, LPSK telah menerima permintaan perlindungan dari ibu dan tiga anak tersebut. Dasar permintaan ini akan ditindaklanjuti oleh LPSK berkoordinasi dengan Bareskrim Polri.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250