Kisah Nelayan Sukabumi, Menerjang Ombak Demi Berburu Udang Rebon

  • Whatsapp
Tingginya gelombang yang baru-baru ini menerjang pantai selatan membuat sejumlah nelayan takut melaut.
banner 300x250

Havana88 –  Tingginya gelombang yang baru-baru ini menerjang pantai selatan membuat sejumlah nelayan takut melaut. Meski begitu, mereka tetap harus mencari solusi agar dapur rumah tetap bergejolak meski terkadang harus menghadapi risiko tinggi.

Misalnya, Asep, seorang nelayan asal Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi, terpaksa berhenti melaut setelah terjadi gelombang pasang dalam sepekan terakhir. Sambil membawa jaring, pria dan teman-temannya berjalan di sepanjang pantai dan mulai menangkap udang rebon.

Read More

Tidak mudah menangkap rebon, mereka berjuang dengan ombak setinggi dada. Ketika deru ombak datang, tubuh mereka bergoyang, kaki kuda mencengkeram pasir pantai melawan hempasan. Mereka bergiliran menarik jala dan membawanya ke pantai.

“Setiap hari biasanya nelayan, karena cuaca buruk terpaksa mencari alternatif lain untuk mencari udang rebon atau udang kecil. Ini sudah tiga hari mencari udang rebon, hasilnya tidak sebanyak laut, tapi lumayan untuk dapur kukus,” kata Asep, Minggu (22/8/2021). ).

Asep mengatakan, mendapatkan udang rebon tidak sebaik menangkap ikan, mereka harus membagi pendapatannya menjadi tiga. Karena menarik jaring tidak bisa dilakukan sendiri, berangkat pukul 09.00 WIB hingga sore hari lumayan untuk bisa mengantongi Rp. 150 ribu.

“Berangkat setiap pukul 09.00 WIB, dari pagi sampai sore kalau pendapatannya Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu dibagi tiga. Karena tarik jaring ada satu dari tepi, satu kiri, satu kanan,” kata Asep lirih.

Perjalanan udang rebon tidak hanya ke pantai untuk kemudian menjadi uang. Nelayan menyerahkan hasil tangkapan udang rebon kepada istri mereka, yang kemudian menjualnya di sekitar desa.

“Dijual Rp 10 ribu, ke tetangga ke kampung. Rp 10 ribu setengah liter – satu gelas. Kalau satu liter Rp 20 ribu,” tambah Asep.

Sudrajat juga mengalami kehidupan serupa, ia membenarkan bahwa cuaca buruk membuat pendapatannya berantakan. Solusi satu-satunya adalah berburu udang rebon.

“Karena cuaca buruk, istri dan anak saya perlu makan, akhirnya saya mengambil rebung ini, dari segi keuntungan sangat jauh dibandingkan dengan melaut. Karena cuaca buruk akhirnya saya mengambil rebung ketika berbicara tentang keuntungan, itu enaknya jadi nelayan yang jauh. , minimal Rp 300 ribu, kalau ini cuma Rp 100 ribu. Hasilnya juga harus dijual keliling kampung,” kata Sudrajat.

Asep dan Sudrahat berharap cuaca buruk cepat berlalu, mereka ingin kembali melaut dan membawa rejeki bagi keluarga di tengah sulitnya mencari profesi lain yang menjanjikan di tengah pandemi.

Cuaca buruk yang terjadi di perairan Pantai Selatan sudah berlangsung lebih dari seminggu. Sejumlah fasilitas umum dan puluhan kapal nelayan dilaporkan rusak diterjang gelombang tinggi.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250