Di PHK Saat Di Tengah Pandemi COVID 19,Pria Ini Justru Sukses Dengan Bisnis Ubi Madunya

  • Whatsapp
Pandemi virus corona membuat beberapa orang kehilangan pekerjaan. Termasuk seorang pria bernama Khairul, namun kini ia justru sukses dengan bisnis ubi madunya.
banner 300x250

Havana88 –  Pandemi virus corona membuat beberapa orang kehilangan pekerjaan. Termasuk seorang pria bernama Khairul, namun kini ia justru sukses dengan bisnis ubi madunya.

Banyak pekerja yang harus menelan pil pahit karena terpaksa di-PHK selama pandemi corona. Namun ada juga yang berhasil menjalankan pekerjaan barunya setelah dipecat, seperti Khairul yang kini berhasil menjadi eksportir ubi madu.

Read More

M. Khairul, pria asal Magelang yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) di masa pandemi kini telah bangkit menjadi petani sekaligus eksportir. Kisah tersebut dibagikan melalui video yang diunggah di kanal youtube Capcapung.

“Awalnya Maret 2020, awal pandemi corona. Saya di-PHK karena kantor tidak bisa beroperasi. Akhirnya saya kembali ke Magelang,” kata Khairul yang awalnya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Selama di kampung halamannya, Khairul mencoba bertani. Ia pun memilih ubi madu sebagai tanaman yang ia kembangkan. Sebelum mulai menanam, Khairul terlebih dahulu melakukan riset.

Dia kemudian menemukan bahwa orang-orang di Jepang, Korea dan Singapura sangat suka makan ubi. “Saya tahu orang Jepang, Korea, Singapura suka ubi madu dari internet. Lalu saya punya teman eksportir, saya tanya bahan makanan apa yang bisa diekspor, jawabannya ubi madu. Jadi saya sudah tahu pasarnya, sebelum tanam,” Khairul menjelaskan.

Setelah belajar tentang budidaya ubi madu selama 3 bulan, Khairul kemudian mencoba berkolaborasi dengan petani lokal yang memiliki lahan tersebut. Di tanah inilah ia menanam ubi madu.

Ubi jalar yang ditanamnya organik karena tidak menggunakan pupuk kimia. Khairul menganggap sawah yang dulunya ditanami padi ini sudah mengandung pupuk alami agar ubi jalar tumbuh subur.

Menurut Khairul, di pasar lokal, ubi madu hanya dihargai Rp. 2.000 per kilogram. Sedangkan untuk komoditas ekspor harganya mencapai Rp. 10.000 per kilogram. Dengan demikian, Khairul bisa meraup lebih banyak keuntungan.

Masa panen ubi jalar madu juga tidak lama, hanya membutuhkan waktu 3,5 bulan hingga ubi jalar siap panen. Untuk ukuran, ubi madu yang diekspor ini berukuran sedang.

“Untuk ekspor ukuran sedang, mereka tidak suka yang terlalu besar. Satu kilo isinya 3 atau 4. Kalau yang besar itu buatan pasar lokal, biasanya dijual ke penjual gorengan,” kata Khairul.

Saat memulai sebagai petani, Khairul mengaku membutuhkan modal sekitar Rp. 12 juta untuk membeli bibit dan biaya pemeliharaan sawah. Namun setelah 3,5 bulan atau saat panen ubi jalar omzetnya bisa mencapai Rp. 100 juta.

Meski sempat stres karena kehilangan pekerjaan, Khairul bersyukur kini telah menemukan jalan untuk mencari rezeki kembali. Bahkan sekarang hasilnya jauh lebih besar.

Kepada generasi muda, Khairul berpesan untuk tidak malu menjadi petani. “Bertani itu bagus anak muda, ayo bertani. Petani keren, petani kaya,” pungkas Khairul.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250