3 Tersangka pemerkosa mahasiswi secara bergiliran di Makassar

  • Whatsapp
3 Tersangka pemerkosa mahasiswi secara bergiliran di Makassar
banner 300x250

Havana88detik – Sidang pembacaan dakwaan tiga kasus pemerkosaan bergilir laki-laki terhadap mahasiswi di Kota Makassar ditunda. Jaksa mengatakan penundaan itu karena saksi korban tidak bisa hadir dalam persidangan.
“(Sidang) ditunda hingga Rabu (3/3). Saksi (korban) tidak sempat hadir,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani kasus ini, Herawanti kepada detikcom di Pengadilan Negeri Makassar (PN). ), Senin (1/3/2021).

Herawanti mengatakan, penundaan itu dilakukan karena agenda pembacaan dakwaan akan langsung dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan korban. Namun, korban hari ini tidak sempat hadir di persidangan.

Read More

“Jadi pemeriksaan saksi korban hari Rabu,” kata Herawanti.

Sementara itu, kuasa hukum korban EA, Rezky Pratiwi mengatakan, korban tidak sempat hadir di persidangan karena korban baru saja pulang dari kampung halaman.

“Korban baru pulang dari Toraja. Sebenarnya dakwaan bisa dibaca dulu, tapi jaksa ingin memeriksa (korban) pada Rabu,” kata Rezky saat dimintai konfirmasi terpisah.

Rezky yang juga Kepala Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar itu kemudian mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kejaksaan dan pengadilan untuk memastikan pemeriksaan terhadap korban berjalan dengan baik.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Makassar untuk memastikan pemeriksaan terhadap korban nantinya, terpenuhi hak-haknya sesuai dengan ketentuan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Peradilan Perkara Perempuan Melawan Hukum, “kata Rezky.

Dalam aturan tersebut, majelis hakim dalam proses persidangan diharapkan memperhatikan beberapa hal penting terkait dengan korban, seperti kesehatan jiwa korban pada saat pemeriksaan, keselamatan, kerugian, dampak yang dirasakan akibat perkara ini, serta memperhatikan kebutuhan pemulihan korban.

“Kami juga berharap persidangan ini sesuai dengan Pedoman Jaksa Agung Nomor 1 Tahun 2021 tentang Akses Keadilan bagi Perempuan dan Anak dalam Penanganan Perkara Pidana,” ujarnya.

Rezky mengatakan pedoman di atas diperlukan agar jaksa juga memperhatikan hak hukum korban dalam persidangan nanti.

“Secara umum haknya dalam pemeriksaan seperti bantuan, hak memberikan informasi tanpa tekanan dan bebas dari pertanyaan yang membelit, hak privasi,” pungkas Rezky.

Sebelumnya diberitakan, pemerkosaan ini bermula saat seorang pelajar berinisial EA dan seorang rekan pria sama-sama datang ke sebuah klub malam (THM) di Makassar, Sabtu (19/9/2020). Di THM, EA dan pasangan prianya bertemu wanita SN dan enam pria lainnya.

Kemudian sekitar pukul 01.00 WITA, Minggu (20/9), EA yang sudah mabuk dibawa pulang oleh rekan prianya. Namun, SN mencegahnya dan meminta rekan laki-laki korban untuk pulang. Sementara itu, SN berjanji akan membawa EA ke sebuah hotel di kawasan Panakkukang untuk menginap karena sudah mabuk.

Namun, setelah rekan pria EA pulang dan EA diantar ke hotel, 3 rekan SN justru bergantian EA di kamar hotel. Pemerkosaan itu berlangsung sampai pagi.

Saat terbangun, EA terkejut karena ada pria di depannya. Selanjutnya pria yang dimaksud langsung kabur. EA pun sempat melihat sejumlah pria lain yang semula berada di ruangan itu kabur.

Sadar telah menjadi korban asusila, EA kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Panakkukang. Selanjutnya, perempuan SN dan enam rekan laki-laki ditangkap polisi pada Minggu (20/9) malam.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250